SENGGOL DISEK LUR...........!!

Sedulur Kakung/Putri engkang sampun kerso pinarak Plerenan AIIZ.COMMO "Blog'e Tjah Galeck" Kawula aturaken Sugeng Rawuh lan Sugeng Pinarak. Menawi Wonten kirange papan pasuguhan kawula anamung aturaken sedoyo kalepatan. Sembah nuhun

BLOG KAWULA

Zodiak Hari Ini

Curahan Pena Hati

Wanita Sholeha

Belajar Sholat

Puisi



Jumat, 19 Agustus 2011

Kenapa FBan itu Haram...??


    Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri seluruh Jawa-Madura XI beberapa waktu lalu memutuskan untuk mengharamkan
cari jodoh lewat jajaring sosial Faceook (FB). Keputusan itu diambil dalam Bahtsul Masa’il di Kediri beberapa waktu lalu.
Menurut Forum tersebut, FB (termasuk juga Friendster/FS, chatting) mengandung banyak mudhorot. Bahkan, komunikasi
yang berlebihan melalui jejaring sosial itu bisa mendorong manusia untuk melakukan perbuatan yang mendekati perzinahan.
     FB memang fenomena aktual dan jejaring sosial paling diminati oleh para netter. Menurut catatan pusat operasional FB di
California, Amerika, sebanyak 813 ribu dari 235 juta penduduk Indonesia menggunakan FB. Maka, pengharaman FB menjadi
pukulan telak bagi mereka di tengah ketergantungan tinggi pada jejaring sosial itu. Para FBer (istilah untuk menyebut aktivis
FB) seolah mendengar guntur menggelegar di siang hari.
Plus Minus
Fatwa bahwa mencari jodoh lewat FB itu haram memang layak untuk dicermati. Bukan pada soal mencari pacar atau bukan,
tetapi ketergantungan yang besar masyarakat pada FB itu. Bagi mereka yang tidak suka memakai jejaring itu, akan
menganggap fatwa tersebut biasa-biasa saja. Tetapi bagi mereka yang sudah kecanduan itu sangat luar biasa. Apalagi
mereka yang sudah mendapatkan kenikmatan dalam “berFB ria”.
FB memang punya dampak negatif. Seseorang yang maniak FB akan mengorbankan apa saja demi jejeraing sosial tersebut.
    Bagi mereka yang tergolong pengangguran atau tidak punya pekerjaan yang menyita waktu, FB barangkali hanya untuk
hiburan dan tidak mengganggu aktivitas.
Tetapi, ini akan sangat bermasalah jika yang melakukan pegawai kantor atau orang sibuk yang berurusan dengan publik.
Sebut saja misalnya pegawai bank. Jika para pegawai bank ini termasuk maniak FB, berapa nasabah yang akan dirugikan?
Berapa milyar sehari bank tersebut rugi? Itu pulalah kenapa beberapa instansi melarang karyawannya memakai jejaring sosial
FB. Jika tidak sampai dilarang, instansi bisa dengan sengaja memperlambat akses FB di tempat mereka bekerja.
     Dalam posisi di atas, FB memang punya dampak buruk. FB akan merugikan orang lain yang sebenarnya sudah menjadi
haknya. Dengan kata lain, FB (dalam kasus di atas) “memperkosa” hak orang lain. Apalagi, jika sebagian FBer mengorbankan
apa saja hanya untuk “berFB ria”. 
     Dampak negatif lainnya adalah adanya perselingkuhan yang awalnya dari iseng. Misalnya, ketemu dengan mantan pacar.
Proses ini akan ikut mengganggu ketidakhormisan rumah tangga yang tak jarang berbuntut perceraian.
Bagaimana dengan keuntungan FB? Tak bisa dipungkiri FB punya dampak positif. FBer bisa menemukan teman-teman
lamanya setelah sekian puluh tahun tidak pernah bertemu. Mereka kemudian menjalin bersilaturahmi, saling bertanya, saling
mengabarkan, bahkan saling bisa menguntungkan satu sama lain. Misalnya dalam dunia bisnis. Mereka ada juga yang
kemudian dipererat lewat “copy darat” dengan mengadakan reuni atau kumpul-kumpul komunitas penggemar. Bahkan bisa
menggalang dana sekalipun untuk disumbangkan ke lembaga sosial yang membutuhkan.
Tak terkecuali saling memotivasi atau saling menantang untuk mencapai kemenangan. Lihat persaingan antara ganda putri
bulutangkis Indonesia Greysia Polli/Nitya Krishinda dengan Jenny Wallwork/Grabielle White (Inggris) saat Piala Sudirman di
China 2009. Persaingan dimulai ketika Greysa menulis di dinding FB-nya. Tidak tahunya, Wallwork berkomentar, “watch out”.
Kemudian dibalas Greysia, “Kita lihat aja nanti”. Akhirnya pasangan Indonesia itu keluar sebagai pemenang.
Katidakberdayaan Manusia
     FB adalah keniscayaan sejarah perkembangan fenomena teknologi komunikasi yang kian pesat. Menolak mentah-mentah
dengan mengenyahkannya bukan tindakan bijaksana, meskipun membiarkan begitu saja dengan mengorbankan diri dan
orang lain juga tidak elok.
Perkembangan pesat FB dan tiadanya kemampuan manusia untuk membendung ketergantungan itu menjadi sebuah cermin
ketidakberdayaan manusia terhadap teknologi komunikasi. Begitu pesat dan cepatnya dampak yang ditimbulkan pada
masing-masing individu penggunanya.
     Ada banyak cara untuk mengantisipasinya. Salah satunya mengembalikan ke hukum-hukum agama. Ini karena secara
rasional manusia tidak berdaya membendung perkembangan FB. Masyarakat sendiri barangkali juga tidak heran, sebab
sebelumnya ada fatwa-fatwa serupa yang berasal dari kalangan agamawan.
     Lihat misalnya fatwa haram Golput, dan merokok yang pernah dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Niatnya baik,
tetapi dalam praktiknya tidak efektif. Kita berprasangka baik atas niat fatwa itu, yang tentu saja tidak dikeluarkan secara
gegabah. Kita tidak mengkritik bahwa fatwa haram mencari jodoh dalam FB haram itu bukan tidak baik, tetapi belum tentu
akan diperhatikan para FBer. Sebab, FB adalah keniscayaan sejarah.
Masalahnya, jangan sampai lembaga keagamaan dijadikan “tukang stempel” atas fenomena disekitar kita. Kasihan kalau
begitu. Ini sama dengan seseorang memaksa orang untuk berbuat baik, tetapi cara yang dilakukannya kurang pas.
     Mereka boleh mengeluarkan fatwa, karena banyak para FBer yang sudah kecanduan FB. Tetapi, semua juga terpulang pada
diri masing-masing. Bagaimana caranya FBer menggunakannya untuk hal-hal positif dan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan
diri dan orang lain. Mencari jodoh dengan cara FB memang boleh dan tidak tertutup kemungkinan dilakukan. Tetapi apakah
itu bisa menjamin masa depan perjodohan itu baik? Atau barangkali, Tuhan telah menentukan jalan mendapat jodoh lewat
FB?
Kita hanya khawatir, sebab ungkapan “semakin dilarang, makin ditentang” akan menjadi-jadi. Sebab, apa yang tidak bisa
dilakukan atau ditentang untuk zaman sekarang? Siapa yang mampu melarang? Kredo kebebasan mengeluarkan pendapat,
mencari informasi, termasuk mencari jodoh lewat jejaring sosial sedang menjadi “birahi” masyarakat. Kalau sudah begitu,
dampak fatwa itu jelas tidak akan efektif. Bagaimana pula dengan hotel-hotel dan tempat maksiat lainnya yang justru
dijadikan transaksi “kelamin”? Apakah sudah diharamkan pula?
Atau apakah ini cerminan lembaga-lembaga keagamaan yang semakin kehilangan kepercayaan diri, sementara masyarakat

      masih berkutat pada persoalan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari? Para FBer akan berpikir, kenapa fatwa itu
tidak pernah bisa menyentuh dan membuat jera pada koruptor yang jelas-jelas merugikan rakyat dan bangsa ini?
Inilah problem kekinian tantangan lembaga keagamaan. Yang jelas, agama adalah sumber kebenaran dan bukan alat
pembenar.

Tiga makhluk Allah pertama yang dibakar oleh api neraka..


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“sampaikan berita gembira kepada umat ini bahwa mereka akan meraih kemuliaan, agama dan ketinggian (kejayaan) serta kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka yang melakukan amal akhirat demi dunia maka di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa-apa”.
HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.


Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dia menghasankannya, Ibnu Hibban dalam shahihnya, keduanya dengan lafaz yang sama dari al-Walid bin al-Walid Abu Ustman al-Madini bahwa Uqbah bin Muslim menyampaikan kepadanya bahwa Syufai al-Ashbahi menyampaikan kepadanya,

“Bahwasanya dia datang... ke Madinah, dia mendapatkan seorang laki-laki yang dikerumuni oleh banyak orang, dia bertanya, “Siapa dia?” “Abu Hurairah” jawab orang-orang. Dia berkata, “Lalu aku mendekat kepadanya sehingga aku duduk di hadapannya, sementara dia terus menyampaikan hadits kepada orang-orang. Ketika dia telah selesai dan menyendiri, aku berkata kepadanya, “Aku memohon kepadamu dengan kebenaran dan dengan kebenaran, anda belum menyampaikan kepadaku sebuah hadits yang anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang kamu pahami dan kamu ketahui.” Abu Hurairah berkata,

“Baiklah sungguh aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang telah disampaikan Rasulullah kepadaku, yang aku pahami dan aku ketahui”. Kemudian Abu Hurairah menarik nafas panjang lagi berat sampai hampir pingsan (karena sedih atau takut). Kami diam, kamudian dia tersadar. Dia berkata “Sungguh aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah kepadaku saat aku dan beliau di rumah ini, tidak ada orang lain selain aku dan beliau.” Kemudian Abu Hurairah menarik nafas panjang lagi berat. Kemudian dia tersadar dan mengusap wajahnya. Dia berkata, “Baiklah sungguh aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah kepadaku pada saat aku dan beliau di rumah ini, tidak ada orang lain selain aku dan beliau.” Kemudian Abu Hurairah menarik nafas lebih berat dan panjang lalu dia terjatuh di atas wajahnya, aku menahannya cukup lama. Kemudian dia tersadar, dia berkata, “Rasulullah menyampaikan kepadaku,

“Bahwa sesungguhnya pada hari kiamat Allah turun kepada para hamba untuk memberi keputusan diantara mereka, masing-masing umat berlutut. Orang-orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang mengumpulkan al-Qur’an, orang yang terbunuh di jalan Allah, dan orang yang berharta melimpah. Allah berfirman kepada qari (yang pandai baca al-Qur’an), “Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang Aku telah turunkan kepada RasulKu?” dia menjawab, benar wahai Rabbku. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan terhadap apa yang diajarkan kepadamu?” dia menjawab, “aku menegakkannya di tengah malam dan siang. Allah berfirman, “kamu dusta”. Malaikat juga berkata kepadanya, “kamu dusta”. Allah berfirman, “kamu ingin agar digelari al-Qari’ (Pembaca Al Qur'an) dan itu telah dikatakan”.

Pemilik harta melimpah didatangkan, Allah berfirman kepadanya, “Bukankah Aku telah melapangkan hidupmu sampai kamu tidak memerlukan seorangpun?” dia menjawab, “benar ya Rabb-ku”. Allah bertanya, “lalu apa yang kamu lakukan terhadap pemberianKu?” dia menjawab, aku menjalin hubungan silaturahim dan bersedekah”. Allah berfirman kepadanya, “kamu dusta”. Malaikat juga berkata kepadanya “kamu dusta”, Allah berfirman, “Akan tetapi kamu ingin agar dikatakan, “fulan dermawan” dan itu telah dikatakan”.

Orang yang terbunuh di jalan Allah dihadirkan. Allah bertanya kepadanya, “Dalam rangka apa kamu terbunuh?” dia menjawab, “Ya Rabb-ku, Engkau memerintahkan berjihad dijalanMu, lalu aku berperang sehingga aku terbunuh”. Allah berfirman “kamu dusta”. Malaikat pun berkata, “kamu dusta”. Allah berfirman, “Akan tetapi kamu ingin agar dikatakan “fulan pemberani”, dan itu telah dikatakan”.

Kemudian Rasulullah memukul lututku lalu bersabda, “Wahai Abu Hurairah, tiga orang itu adalah makhluk Allah pertama yang dibakar oleh api neraka pada hari kiamat.”

Al-Walid Abu Utsman al-Madini berkata, “Uqbah memberitakan kepadaku bahwa syufailah yang datang kepada Muawiyah dan memberitakan ini kepadanya. Abu Utsman berkata, “Dan al-Ala’ bin Abu Hakim menyampaikan kepadaku bahwa dia adalah algojo Muawiyah, dia berkata, “Lalu seorang laki-laki datang kepadanya dan menyampaikan ini kepadanya dari Abu Hurairah”. Muawiyah berkata, “Mereka telah diperlakukan demikian, lalu bagaimana dengan manusia-manusia yang lain?” Kemudian Muawiyah menangis dengan keras sampai kami mengira dia celaka. Kami berkata, “Orang ini telah datang kepada kami membawa keburukan”. Kemudian Muawiyah tersadar dan mengusap wajahnya. Dia berkata, “Allah dan RasulNya benar, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Hud 15-16)
(HR. at-Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“sampaikan berita gembira kepada umat ini bahwa mereka akan meraih kemuliaan, agama dan ketinggian (kejayaan) serta kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka yang melakukan amal akhirat demi dunia maka di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa-apa”.
HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidak ada seorang hamba yang berdiri (beramal) di dunia di atas pijakan riya’ dan sum’ah (memperdengarkan amalan karena ingin dipuji manusia) kecuali Allah akan mempermalukannya dengan memperlihatkan niat busuknya pada hari kiamat di hadapan makhluk-makhluk-Nya.
HR. ath-Thabrani dengan sanad hasan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Allah mengumpulkan orang-orang pertama dan terakhir pada hari kiamat, hari yang tidak ada keraguan padanya, seorang penyeru berseru, “Barangsiapa telah menyekutukan Allah dengan seseorang dalam amalnya maka hendaknya meminta pahala kepadanya karena Allah adalah Yang paling tidak membutuhkan persekutuan.”
(Hadits Hasan. HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi.)

======
Referensi: e-book pdf terjemahan kitab hadits Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Belajar Tentang Islam

Wednesday, May 11, 2011


Memahami Tawakkal secara syar'i, meraih ketenangan hati..

Tawakkal adalah penyandaran kepada Allah Ta’ala dalam mendapatkan apa-apa yang diinginkan dan dalam menolak apa-apa yang tidak disukai, bersamaan adanya ketsiqahan/kepercayaan kepada-Nya, dan melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan padanya.

Sehingga didalam tawakkal adanya dua... perkara: yang pertama: bersandar kepada Allah dengan penyandaran yang jujur dan hakiki. Kedua: melakukan sebab-sebab yang dibolehkan padanya.



Maka barangsiapa yang menjadikan penyandarannya kepada sebab-sebab itu lebih banyak maka berkuranglah tawakkalnya kepada Allah, dan jadilah dia orang yang menodai dalam masalah pencukupan Allah (terhadap hamba-Nya), .

Dan sebaliknya barangsiapa yang menjadikan penyandarannya kepada Allah tetapi melalaikan/tidak mengambil sebab-sebab, maka sungguh dia telah mencela dalam masalah hikmahnya Allah, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu itu ada sebabnya.

Bila demikian maka tentu tawakkal dalam diri manusia bertingkat-tingkat, dimana ia (tawakkal) akan menguat dalam diri seseorang sejalan dengan bertambahnya iman pada dirinya dan sebaliknya ia akan melemah dengan berkurangnya keimanan dalam dirinya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka dan kepada Rabbnyalah mereka bertawakkal.”
(QS. Al Anfal: 2).

Tawakkal adalah ibadah yang agung, yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada sang Penciptanya

Allah berfirman,

... Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Al Maa'idah:23)

Imam Ahmad mengatakan, “Tawakkal adalah ibadah hati.”

Dan Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS AthThalaq: 3).

Pada ayat ini Allah menjanjikan atas siapa saja yang bertawakkal padanya dengan diberikan balasan berupa kecukupan. Balasan yang besar ini tentu tidak akan tercapai kecuali dengan ibadah yang benar dan besar pula.

Hal yang mendorong seorang hamba untuk bertawakkal kepada Allah, menyandarkan hati padaNya ialah hendaknya mengetahui bahwa bukanlah hak makhluk memberikan kemanfaatan dan kemudharatan, hidayah dan kesesatan, meninggikan dan merendahkan, serta memuliakan dan menghinakan. Tetapi Allah, Dialah Rabb seluruh makhluk dan manusia, yang telah menciptakannya, memberi rizkinya, memberi petunjuk padanya, serta menganugerahkan segala nikmat untuknya dan segala sesuatu berada didalam kehendak-Nya.


Tawakkal dan melakukan sebab.

Mengambil sebab yang disyariatkan adalah dalil akan kebenaran tawakkal dan kejujuran orang yang bertawakkal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Meninggalkan sebab berarti celaan terhadap syariat dan akal, sedangkan bersandar pada sebab (tanpa tawakkal) adalah kesyirikan.”
(Majmu’ul Fatawa: 8/175-176).

Berkata Ibnul Qoyyim, “Telah menjadi kesepakatan bahwa tawakkal tidaklah menafikan untuk mendatangkan sebab/usaha. Tidak sah tawakkal kecuali dengan itu, jika tidak maka hal itu adalah kebatilan dan tawakkal yang rusak. Suhail bin Abdillah berkata, ‘Barangsiapa mencela usaha /sebab, berarti ia telah mencela sunnah, barangsiapa mencela tawakkal berarti ia telah mencela iman, maka bertawakkal adalah keadaan nabi sedangkan usaha adalah sunnahnya (petunjuknya). Siapa saja yang beramal dengan keadaannya, janganlah meninggalkan sunnahnya.’” (Lihat Madaarijus Saalikin: 2/116).

Jika tawakkal sebagai ibadah, maka tidak boleh menyandarkannya kepada selain Allah, sebab hal itu adalah bentuk kesyirikan. Begitu pula dalam hal mengambil sebab, tidak dibolehkan mengambil sebab, kecuali yang diperkenankan menurut syariat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang melakukan ibadah tawakkal dengan baik. Amin..

(Nabi Ibrahim berkata): "Ya Rabb kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (QS.Al Mumtahanah:4)

By Untaian Hikmah

Tanaman Berdaun Emas

Sumber Gambar: http://ditjenbun.deptan.go.id/
 APA SIH MINYAK NILAM ITU?
 
Salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang dikenal di Indonesia adalah sebagai minyak nilam (Pogostemon cablin Benth). Minyak nilam yang dihasilkan dari usahatani nilam adalah terna (daun dan ranting) tanaman yang diproses melalui penyulingan. Dengan berkembangnya pengobatan aromaterapi, minyak nilam dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan fisik, mental dan emosional. Di pasaran minyak atsiri dunia, minyak atsiri Indonesia dikenal paling baik dan menguasai pangsa pasar sekitar 80% - 90% yang berasal dari nilam. Oleh karena itu, sampai saat ini nilam merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mampu memberikan sumbangan terhadap devisa negara. Mengingat eksistensi dan peluang pasar yang masih menjanjikan, maka agribisnis dan pasar nilam harus dikelola dengan baik. Pengembangan agribisnis nilam di Indonesia cukup baik, hal ini selain pangsa pasar dalam dan luar negeri yang luas, juga didukung ketersediaan lahan yang dan tenaga kerja yang masih luas dan agroklimat yang sesuai dengan persyaratan pertumbuhan tanaman.
 
Pemasaran
Perkembangan komoditi ekspor nilam cakhir-akhir ini cenderung meningkat setiap tahunnya bahkan harga jual ekspornya mencapai US $ 1.000 per kg. Trend ini dipicu oleh semakin tingginya permintaan terhadap parfum/kosmetika, trend aromaterapi serta belum berkembangnya teknologi zat pengikat (fiksasi) dalam industri parfum/kosmetika. Kegiatan distribusi pemasaran nilam dapat dibagi dalam tiga tingkatan yaitu: 1) pemasaran pada tingkat petani ke pengumpul atau pengusaha pemilik kilang minyak nilam; 2) pemasaran dari pengumpul lokal ke pengumpul besar/eksportir; dan 3) pemasaran minyak nilam oleh eksportir ke importir/konsumen di luar negeri.
Pemasaran pada tingkat petani ke pengumpul atau pengusaha pemilik kilang minyak nilam, para petani menjual produknya dalam dua produk yaitu: 1) penjualan daun kering dari petani kepada para pemilik kilang dan selanjutnya pemasaran minyak atsiri dilakukan oleh pemilik kilang; 2) penjualan minyak nilam oleh petani setelah diolah di kilang kepada para pengumpul lokal.
Harga pada masing-masing tingkatan ditentukan oleh harga tingkatan ke 3 yaitu harga penjualan ekspor. Para pengumpul/lokal biasanya memperoleh informasi harga dengan mengadakan penawran kepada beberapa eksportir dan menjual kepada penawaran tertinggi. Sistem pemasaran yang terbuka ini, akan menguntungkan para pemasok lokal namun belum tentu menguntungkan petani karena informasi harga ekspor ke petani tidak pernah samapi ke petani.
 
Pasar Internasional
Sebagai bahan baku minyak wewangian, Indonesia telah berhasil mengekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Perancis, Belanda, Swis, Jerman, Singapura, Inggeris, Jepang, India, Spanyol, Hongkong, Malaysia, Italia dan Argentina.
 
Pasar nasional
Pasar nilam di Indonesia masih berkembang seiring dengan berkembangnya produk kosmetik, parfum dan peralatan kecantikan dalam negeri seperti Mustika Ratu, Ratu Ayu, Viva Cosmetics dan lain-lain.
Sentra produksi minyak nilam
Sentra produksi minyak nilam di Indonesia adalah Nagroe Aceh Darusalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
 
Varietas unggul nilam yang layak dipasarkan
1. Varietas Sdikalang, dengan ciri-ciri sebagai berikut: a) produksi terna (daun dan ranting) kering 10,902 ton/ha); b) Produksi minyak 315,06 kg/ha; c) kemampuan daya adaptasi yang luas; d) pangkal batangnya berwarna ungu tua; dan e) relatif toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda; f) kadar minyak 2,89%; g) kadar patcholi alkohol (%) 32,95.
2. Varietas Lhokseumawe, dengan ciri-ciri sebagai berikut: a) produksi terna (daun dan ranting) kering 13,278 ton/ha); b) kadar minyak 3,21%; c) produksi minyak 375,76 kg/ha; d) kemampuan daya adaptasi yang luas;e) pangkal batangnya berwarna ungu tua; f) kadar patcholi alkohol (%) 33,31.
3. Varietas Tapak Tuan, dengan ciri-ciri sebagai berikut: a) produksi terna (daun dan ranting) kering 13,278 ton/ha); b) Produksi minyak 375,76 kg/ha; c) kemampuan daya adaptasi yang luas; d) pangkal batangnya berwarna hijau dengan sedikit ungu; e) kadar minyak 2,83%; f) kadar patcholi alkohol (%) 33,31.
 
Oleh : Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian)
Sumber : Teknologi Budidaya Nilam, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Perrtanian, 2008; Pedoman Pembangunan Kebun Penangkar Benih Nilam, Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, Ditjen Perkebunan, 2010; Agribisnis tanaman minyak atsiri, Balit Tanamanan Rempah dan Obat, Badan Litbang Pertanian, 2001.